Jumat, 03 April 2009

makrifat

Belajar Makrifat apa menjalani ma’rifat ??? (3)
untuk apa belajar lama-lama tentang ilmu hakikat makrifat kalau semua tinggal dijalani. mengenal Allah tidak diperlukan kenal seperti kenalnya para aulia atau para nabi… ya kenalnya semampu kita kenal dengan Allah. yang sedikit yang sederhana kita kenal dengan Allah itulah yang kita gunakan kita pake kita jalani. contoh kalau kita mau ke pasar atau ke suatu tempat yang mungkin agak jauh… kita hanya punya sepeda motor untuk menjangkaunya.. ya sudah tinggal tancap gas saja pergi berjalan ,.. kenapa kita harus nunggu punya mobil ya kelamaan wong punya kita cuma motor, lain dengan yang sudah mobil … namun belum tentu juga .. bahwa yang punya mobil dipakai untuk berjalan menuju ke Allah.. bisajadi kan dia berilmu makrifat tinggi tapi tidak dipakai untuk hidup keseharian. allahpun tidak melihat ilmu kita atau alat yang kita pakai kok, tapi Allah melihat kesungguhan kita dalam menuju kepada Nya.
mungkin kita ragu untuk segera berjalan ke Allah karena takut tersesat.. yang menyesatkan sebenarnya adalah pikiran kita sendiri yang menganggap bahwa kita akan tersesat. jadi sugesti tersesat itu sebenarnya yang akan menyesatkan kita sendiri, bukan jin dan bukan syetan (kasihan dia selalu di kambing hitamkan).
saya katakan lebih ekstrim lagi bahwa menjalani makrifat tidak perlu menggunakan ilmu, jadi untuk apa belajar makrifat… malah jika terlalu banyak belajar makrifat malah bisa bikin pusing.. coba ikuti saja diskusi diskusi di milis milis yang membicarakan masalah makrifat saya jamin tambah bingung dan tambah bingung. mereka bicara ilmu makrifat bukan perjalanan makrifat. makrifat kalau ditulis malah nggak keluar tulisannya. Apanya yang ditulis kalau akhirnya mentog pada ketiadaan. orang bicara makrifat pasti sesuai dengan persepsi nya sendiri dan sesuai dengan pengalaman emosional yang dialami. sehingga dalam mempelajari ilmu makrifat akan sangat banyak versi. contohnya saja kiat belajar makrifat dari Ust Abu Sangkan dengan para ahli tarekat akan sangat berbeda kalau pak tidak mengenal wasilah (perantara) tapi jika para ahli tarekat sangat tergentung pada wasilah dalam berjalan menuju ke allah. mana yang benar? saya kira semua mnemiliki dasar pengalaman sendiri sendiri dan hal ini tidak perlu diberdebatkan lagi.
Apa yang terjadi saat ini merupakan cerminan dari “pembelajaran ilmu makrifat yang salah” kenapa salah ya salah karena orang jadi awang awangen untuk belajar makrifat karena berbelit belit dan sulit. akhirnya mereka pun mengatakan jangan belajar makrifat kalau masih muda, nanti saja kalau sudah tua.. ini suatu kesalahan fatal yang harus kita perjuangkan. kenapa mengenal Allah nunggu tua??!.
mengenal Allah ini lintas ilmu, orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal Allah. ada sedikit kecenderungan egoisme dari para ahli ilmu agama bahwa makrifat merupakan pelajaran universitas… jadi adakecenderugan untuk membeda bedakan kasta… yang kasta tak berilmu tidak boleh mempelajari ilmu ini , yang kasta santri atau kyai boleh mempelajari ilmu ini. ini adalah suatu pembodohan yang menyesatkan, lagi lagi egoisme menimbulkan kerusakan.
mungkin tulisan ini agak keras.. maaf.. namun hal ini sekedar penyemangat saja bagi sahabat sahabat seperjuangan termasuk juga kepada mas Musahfiq yang menyampaikan keluhan nya (baca komentar), untuk selalu menjalni makrifat bukan belajar makrifat. jangan bangga dengan ilmu yang dimiliki tapi banggalah jika kita bisa selalu bersama allah dalam keseharian kita.
Ditulis dalam makrifat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar